Baru kali ini ada orang yang berani nyinggung Dafa. Tepat saat istirahat
pertama berakhir, waktu itu aku sedang asyik baca novel di kelas.
Jangan salah, walaupun aku sedang baca buku bukan berarti aku lupa
daratan. Sambil terus baca buku *lebih tepatnya pura-pura* telingaku
mendengar kalimat ejekan yang serius dan rencana mengerjai secara
keterlaluan. Targetnya kali ini sahabat karibku DAFA! Ada gank di
sekolah ini yang cuma berani Nindys orang. Mana royokan lagi! coba
tantang 1 lawan 1 mereka udah kabur duluan. Dafa Surya Permana sahabatku
dari kelas 1 SMP dan kita tetep sahabatan sampai sekarang kelas 2 SMA
hebat kan? Dafa itu luarnya emang culun bukan main. Kayaknya cuma aku
satu- satunya orang yang pernah ngeliat tampang aslinya setelah keluarga
besarnya sendiri. Penampilan casing Dafa memang menyedihkan.
Rambut licin, jalan nunduk dan kacamata super gede. Aku juga heran
sendiri kenapa sahabatku gini amat, miris. Pertama kenal, waktu aku lagi
latihan karate. Dafa memang nggak pake kacamata dari sononya. Kita
sama-sama ban kuning waktu itu. Dafa itu lagi istirahat, nggak tau ada
apa dia langsung nyapa aku. “Eh, kamu Nindy kan?” aku langsung noleh.
“Iya, kamu siapa?” “Kenalin, aku Dafa!” Dafa
menjabat tanganku. Kesan pertama ngelihat Dafa aku heran banget,
jarang-jarang ada anak yang sok akrab denganku. Ternyata Dafa anak dari
sahabat papaku, otomatis kita sahabatan juga. Dafa memang keren kalau
nggak
dandan culun gitu. Nggak tau kenapa waktu ke sekolah dia jadi culun
banget. Aku sempet ngenalin Dafa ke beberapa temen laki-laki yang
se-club denganku di club bahasa Inggris. Mereka terbuka banget sama
Dafa, semenjak itu Dafa nempel sama aku terus.
Yah... sampe sekarang belum ada
ceritanya aku dibelain sama Dafa, yang ada Dafa yang kubelain. Waktu
dijailin sama panitia MOS, waktu dituduh nyuri sepatu Pak Gambang, dan
waktu-waktu yang lain. Soalnya ini anak kayaknya letoy banget kalau di
sekolah, jadi dia minta supaya aku nyembunyiin identitas aslinya.
Kembali ke topik awal.. “Daf! Daf!” aku menepuk pundak Dafa yang asik
sama laptopnya. “Apaan?” tanya Dafa sambil terus melototin layar laptop.
Aku yang nggak sabaran langsung nutup layar laptop dari
depan. “Eh! Kok dimatiin! Nin!!!!!” hasilnya pipiku dicubit, yah walaupun nggak sakit, lumayan bikin aku meringis.
“Ada apa sih?” Dafa baru merhatiin aku. “Kamu tau nggak? Kamu itu
mau dijailin sama gank rusuh!” seru aku. “Trus?” tanya Dafa. “Mungkin
kamu pulang sekolah nanti bakal dikerjain.” aku menerawang. “Kamu mau
dipukulin apa?” teriakku sewot. “Ya enggak lah! Bego’ banget dipukulin
diem aja!” Dafa protes. Kita nyusun rencana, justru lebih jail.
Orang-orang yang mau ngejailin Dafa selalu bawa sepeda motor ke sekolah.
Walhasil, kita minta paku buat ngebocorin ban sepeda orang yang
bersangkutan. Nggak cuma itu, kita juga sempet ngasih lem kuat di jok
sepedanya.
Bel pulang, Dafa sama aku biasa-biasa aja. Dafa langsung ngegaet ke
parkiran. Seperti yang diduga, mereka ber-4 susah buat turun dari sepeda
masing-masing. Aku sama Dafa ngumpet di balik tembok sambil cekikikan.
Rasain! Sudah puas ngeliat orang-orang jail itu, kita melenggang pulang.
Waktu mau nyebrang jalan, “Awas!” jeritku. Dafa nggak sengaja kesenggol
sepeda motor, kacamatanya langsung jatuh. Dafa mau ngambil tuh
ceritanya, aku langsung narik badannya dan.. Prak.. kacamata Dafa
kelindes bus.
“Wuih, trims banget kamu udah nyelametin aku, lagi.” ujarnya
cengengesan. “Udah biarin aja kacamataku tadi, berarti emang udah
waktunya nunjukin identitas asli.” senyum Dafa mengembang. “Trus kamu
besok mau ganti penampilan?” tanyaku cuek. “Maybe yes, maybe not..” Dafa
menerawang. Dafa dan aku, melenggang pulang dengan santai seperti
biasanya.
“Pantes.. dia takut sama wajah aslinya..” Kak Rio geleng-geleng
kepala. “Takut tenar dia.” Kak Rio berujar lagi. Saat ini, aku dan Kak
Rio lagi asik duduk di teras rumah. Itu tadi reaksi Kak Rio waktu
ngeliat foto Dafa berwajah asli. “Lagian kak, dia orangnya nggak suka
menonjol. Tapi kemarin, dia kayaknya udah putus asa gitu nyembunyiin ID
aslinya.” Balasku sambil mencomot cheese cake dari piring. Masalahnya,
Dafa itu anggota OSIS di sekolah yang paling culun. Banyak adik kelas
yang ngeledekin. Entah apa reaksi mereka besok. Aku cuma bisa berdo’a
semoga Dafa nggak di jailin lagi sama gank rusuh kemarin. Yah.. besok
aku juga harus nyiapin diri buat olahraga. Zzz...
Ternyata benar apa yang udah kuduga kemarin. Dafa jadi inceran
perempuan cantik di sekolah. Nasib... nasib... aku cuma bisa sama dia
waktu jam pulang sama berangkat sekolah. Nggak kayak dulu, yang tiap
istirahat selalu nempel.
Hubunganku sama Dafa lama kelamaan makin jauh. Jauh banget malahan.
Tapi, aku juga harus ngebiarin dia nikmatin dunia baru. Sebagai salah
satu laki-laki tercakep di sekolah ini. Semoga, Dafa nggak lupa
denganku. Hari Sabtu, pulang cepet! Yay! Seperti biasa, Dafa bakal
nungguin aku di koridor kelas. Waktu aku jalan setengah lari, udah
keliatan laki-laki jakung itu
berdiri bersandar ke dinding. Aku menghampirnya dengan cepat.
“Yuk pulang!” aku jalan gitu aja ngelewatin dia sambil masang
tampang happy. “Tungguin dong!” Dafa narik lenganku. “Apa?” aku
berpaling. “Gini, kamu bisa nggak nolongin aku lagi?” Dafa memohon.
“Please.. aku udah tau kalau ada emansipasi wanita jaman sekarang, tapi
bukan berarti aku harus nolak 5 perempuan dalam waktu 3 hari. Aku nggak
tega ngeliat mereka nangis.” Jelas Dafa panjang lebar.
“Kenapa nggak diterima aja? Gampang kan?” aku melengos pergi. “Yah..
kalau aku nggak suka gimana?” tanya Dafa menghalangi jalanku. “Ya
sudah, itu tergantung kamunya gimana.” Aku berjalan kembali, Dafa
langsung berjalan cepat di depanku. “Ada apa lagi sih? Udah yuk!
Pulang..” Dafa tetap berdiri di depanku.
“Maaf ya Nin, aku jadi jauh sama kamu. Udah 3 minggu kayak gini
terus.” Raut wajah Dafa muram. “Iya iya! Udah lah, nggak apa-apa kok!
Aku juga ingin kamu ngerasain hidup yang beda.” Aku menepuk pundaknya.
“Jadi? Aku boleh nempel lagi kan
sama kamu?” Dafa memohon. “Nempel? Memangnya perangko nempel?” aku tertawa.
“Lagian susah sih bersahabat sama orang populer..” ledekku. Dafa
terkejut, dan tertawa kencang. “Aku? Populer? Ngaco!” Dafa mengacak
rambutku. Senang sekali kembali seperti dulu.
“Nin! Kakak pinjam komik Conan yang edisi 195 ya!” Kak Rio berteriak dari atas. “Iya! Ambil aja kak! Jangan lupa di kembaliin
di tempatnya ya kak!” aku berteriak dari tangga. “Beres!” jawab Kak
Rio. Aku membuka kulkas dan mengambil jus jambu, kemudian duduk kembali
di ruang tengah. Handphone-ku berdering. Tertulis nama “Si DaCu” alias
“Dafa Culun” “What’s up?” tanyaku. “Aku pengen kamu keluar sekarang ya!
Pakai baju yang bagus! Jangan pakai celana
pendek atau panjang. Pakai dress yang kamu pakai waktu pesta perayaan. Aku tunggu di depan!” Dafa langsung memutus sambungan.
Apaan? Belum sempet jawab apapun udah di tutup, dasar si Culun! Apa
boleh buat, aku harus mengikuti aturan aneh Dafa tadi. Pakaianku, dress
berwarna pastel berpita di bagian depan pinggir. Tatanan rambut, hanya
kugerai dan ditambah bandana dengan aksesori bunga. Alas kaki, hanya
flat shoes yang senada dengan dress ini.
☻☺ Setelah kupastikan semua tertata rapi, langsung aku mengambil tas
kecil yang hanya kuisi dompet dan handphone lalu bergegas keluar. Papa
dan mama sedang menonton tv di ruang keluarga, mereka tak sengaja
melihatku dengan pakaian rapi. “Mau kemana Nin?”
tanya papa. “Tadi, Dafa nelepon Nindy terus nyuruh keluar pakai
dress mama ini.” Jelasku. “Bener kan? dress mama itu memberikan pengaruh
positif?” mama tergelak disusul papa. Aku hanya mendengus jengkel, “Ma,
heran deh! Masa’ suka sih sama baju seperti ini? Kan susah bergerak?”
protesku. “Sayang, ke sini sebentar.” Mau tak mau, aku berjalan dan
duduk diantara mama dan papa. “Sayang, perempuan itu harus tampil
secantik mungkin. perempuan harus menonjolkan diri dengan sifat
perempuannya, begitu pula dengan laki-laki.” Jelas mama panjang lebar.
“Papa juga begitu, papa menginginkan anak papa mempunyai
keistimewaan masing-masing tanpa meninggalkan takdirnya.” Papa tersenyum
hangat. Benar juga, perempuan tidak dapat mengubah dirinya menjadi
laki- laki. Seberapapun kerasnya dia berusaha, jiwanya pasti tetap
perempuan, begitu juga sebaliknya. Aku berpamitan dengan orang tuaku dan
langsung keluar rumah. Hanya berjalan beberapa meter, Dafa sudah
terlihat menunggu sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Aku berjalan
cepat dan langsung menepuk pundaknya. “Hei! Ngelamun aja! Kalau
kesambet, tambah culun lho!” aku mengagetkannya.
Dafa terkejut dan mendengus sebal. “Kamu ini! Bikin kaget! Tambah
culun? Biarin!!” Dafa mengacak-acak rambutku. “Ih! Tadi disuruh rapi
malah di ancurin!” jeritku sambil menepis tangan Dafa dan melayangkan
cubitan keras di rusuk Dafa. “Sakit tau!” Dafa meringis dan langsung
berlari meninggalkanku. Aku mengejarnya dengan sebal. Dafa berlari
menuju bukit yang terletak tak jauh dari kompleks perumahan kami.
Tiba-tiba, kakiku tersandung dan menabrak Dafa yang berada di depanku.
Brukk.. jatuhnya kami meninggalkan rasa sakit di sana-sini. Aku terjatuh
tetapi tertahan oleh badan Dafa yang berposisi telentang.
“Wa!!!!!!!!!!!!” aku menjerit keras saat wajahku dan Dafa berjarak
sangat dekat. Aku langsung terduduk sambil membersihkan kaki dari
rumput. “Kamu kalau jalan liat-liat dong!” protes Dafa sambil mencoba
duduk. Aku meringis menahan sakit, sementara Dafa membersihkan
rambutnya.
☻☺ “Aku kesandung sih! Jadinya langsung nabrak deh! Untung ada kamu
di depanku, jadinya bajuku nggak kotor kena rumput.” Aku terkekeh. “Kamu
enak nggak kotor, aku ini yang kasian.” Gerutu Dafa. “Iya, iya..” aku
membersihkan rumput yang berada di pundaknya. “Udah, kamu nggak usah
bersihin aku segala, kamu sendiri masih banyak rumputnya.” Ledek Dafa
sambil menunjukkan rumput yang berasal dari kakiku.
Kami berdua saling membersihkan rumput yang menempel. “Kamu sih!
Pake’ acara lari-larian!” aku memprotes. “Siapa yang kesandung?” balas
Dafa. “Aku..” jawabku dengan tampang polos. “Nah itu! yang salah kan
berarti kamu!” Dafa meledek. “Kamu tau!” balasku. “Kamu!” “Kamu!”
“Kamu!” “Kamu!” -_____-
Kami saling menyalahkan, seperti anak kecil. Kami merebahkan diri di
atas rumput bak permadani. “Kenapa sih ngajak keluar?” tanyaku bete’
“Ya.. biar kamu nggak bosen di rumah terus.” Jawab Dafa sambil memandang
langit. “Aku nggak bosen tuh!” aku mulai protes. Dafa berpaling ke
arahku dan mencubit pipiku. “Iya iya bawel! Terserah deh..” “Ih.. merah
nih pipiku!” protesku lagi. “Hehehe...” Dafa meringis. Hening... hanya
terdengar suara gesekan daun karena angin. Kami saling tenggelam dalam
pikiran masing-masing. “Kamu percaya nggak kalau aku suka sama kamu?”
Dafa duduk berhadapan denganku. “Kenapa tiba-tiba sih?” aku langsung
tegang. “Lebih cepat lebih baik.” Senyumnya mengembang. Wajahku mendadak
hangat. “Jangan bercanda yang aneh- aneh!” aku mengacak rambut Dafa
dengan gemas. Tanganku digenggamnya “Aku nggak bercanda..” raut wajah
Dafa berubah. “Eh..?” aku terdiam. Oke! Kali ini aku gugup, sangat
gugup. Seorang laki-laki culun mendadak tenar, sedang berbicara aneh di
depanku.
“Ya..ya, kalau kamu suka sama aku, wajar lah... orang tua kita kan
kenal dekat.” Aku menerawang dan menjawab sebisanya. Dafa menarik nafas
panjang dan menghembuskannya dengan perlahan lalu.. “Will you be my
girlfriend?” wajahnya sangat dekat. Aku memegang bahunya dan mendekatkan
wajahku. “Daf, It’s so ridiculous.” aku langsung bergeser mundur. Dafa
mendengus gemas.. dan hanya kutanggapi dengan mengacak rambutnya
kencang. “Uh.. susah kalau seperti ini caranya!” Dafa memaki diri
sendiri. Aku mendorong tubuhnya. “Kamu sih! Aku beneran tau!!!” Dafa
mencubit kedua pipiku. Aku mencengkram kedua tangannya. Dafa langsung
melepas cubitannya.
“Kamu belum pernah nembak perempuan sebelumnya ya?” tanyaku. “Mana
ada sih, yang mau sama laki-laki culun?” Dafa menerawang. “Ada kok!”
tukasku. “Heh? Siapa?” tanya Dafa antusias. “AKU!” jawabku kencang
sambil berkacak pinggang. Dafa langsung mengacak-acak rambutku dengan
gemas sambil berkata "Makasih udah suka sama aku yang culun ini."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar